Primadona Unik di Perairan Estuari: Udang Api – Api (Metapenaeus monoceros, Fabricius 1798)

Posted on

Udang Api – Api, tak banyak mengenal lingkungan sekitarnya, juga sebaliknya. Umumnya bintik merah dengan kulit yang kasat serta coklat muda tembus cahaya menjadi ciri sederhana yang membedakannya dengan udang yang lain. Telisik lebih lanjut, manfaat besar sangatlah dirasakan terutama sejak primadona ini dikenal sang petani udang.

Udang Api - api

Speckled shrimp dengan nama latin Metapenaeus monoceros adalah udang komersial penting di perairan estuari yang tersebar hingga kedalaman 75 m di wilayah landas kontinen. Banyak sebutan untuk spesies udang ini di daerah-daerah Indonesia, yaitu udang api-api, udang dogol, udang dugul, udang kasap, udang laki, udang kayu, udang werus, udang kupas, udang kader, dan sebagainya. Di dunia perdagangan, udang ini dikenal sebagai endeavor prawn. Udang jenis ini memiliki kulit yang kasat dan keras, berwarna coklat muda sedikit tembus cahaya, kadang berwarna kemerah-merahan, dan berbintik-bintik merah. Ujung kaki dan ekor berwarna kemerah – merahan, kecuali dua kaki pertama berwarna putih. Panjang udang ini dapat mencapai 18 cm (Mudjiman & Suyanto 1989; Maemunah 2001 in Wulandari 2015).

M. monoceros tersebar di perairan Indo-Pasifik sepanjang pantai Australia Utara ke Jepang, Bangladesh, China, Papua Nugini, Philiphina dan bagian barat selat Malaka. Spesies ini dikenal dengan nama Takard Kung di Thailand yang jumlahnya melimpah di sepanjang pantai dan estuari, kanal, teluk dalam dan danau payau di Thailand. Substrat berlumpur yang lembut sangat cocok untuk tempat berlindung selama siang hari saat suhu mulai naik. Penangkapan M. monoceros lebih baik dilakukan pada saat malam hari karena spesies ini bersifat nokturnal.

Udang api-api memiliki ciri morfologi yaitu mempunyai rostrum panjang dan lurus serta ditumbuhi 7 – 9 duri dorsal hingga ke tepi posterior karapas. Rostrum memiliki gigi dengan rumus 6-9/0, umumnya 8/0, berbentuk lurus atau  hampir lurus dan agak mengarah ke atas. Udang ini tidak memiliki eksopod pada kaki jalan kelima serta abdomen kasar dan ditumbuhi rambut. Udang api-api memiliki panjang maksimum karapas yaitu 5 cm, lebih meyukai daerah  yang memiliki sedimen lumpur berpasir dan bertahan hidup dengan memakan beberapa organisme seperti krustasea, polychaeta, moluska, ikan, ganggang, dan detritus.

Udang Api - api 1

Udang api-api merupakan salah satu organisme akuatik pemakan plankton baik fitoplankton maupun zooplankton dan merupakan predator dari beberapa invertebrata (Nybakken 1992 in Anggraeni 2001). Hasil studi yang dilakukan George (1959) menyatakan bahwa udang api-api merupakan omnivora berdasarkan analisis dari isi perutnya. Ketersediaan makanan dalam jumlah yang cukup di ekosistem mangrove juga turut berpengaruh terhadap pertumbuhan udang api – api yang berujung pada hasil tangkapan udang di ekosistem tersebut (Anggraeni 2001).

Perkembangan populasi udang api-api akan sangat bergantung pada kondisi dan luasan dari ekosistem mangrove yang merupakan habitatnya. Ada banyak parameter lingkungan yang mempengaruhi distribusi udang di wilayah pesisir. Menurut Macia (2004) bahwa faktor – faktor seperti salinitas, temperature, turbiditas, dan kedalaman yang bervariasi secara signifikan mempengaruhi distribusi udang api-api. Variasi musiman dari faktor ini dapat menunjukkan pengaruh udang yang melimpah di daerah estuari. Tipe sedimen dan kedalaman yang berbeda merupakan faktor yang paling mempengaruhi respon dan perbedaan kelimpahan udang diantara habitatnya.

Metapenaeus monoceros juga menunjukkan kelimpahan tinggi di habitat lumpur yang datar dan pasir datar. Penelitian yang dilakukan Huges (1966) dan Feitas (1986) menunjukkan bahwa distribusi M. monoceros juga dikaitkan dengan keberadaan predator di ekosistem tersebut. Macia (2004) juga menemukan bahwa predasi M. monoceros oleh Terapon jarbua dalam percobaan akuarium mengalami penurunan pada substrat berlumpur dibandingkan dengan substrat berpasir dan substrat sisa-sisa dari cangkang moluska, karena pada daerah berlumpur M. monoceros lebih mudah beradaptasi dengan menggali substrat yang bertekstur lembut ini untuk bersembunyi di dalamnya.

Selain itu, suhu merupakan pengatur dan dapat mempengaruhi laju pertumbuhan udang, karena udang sebagai hewan akuatik bersifat poikilothermik, dimana suhu dalam tubuh biota mengikuti perubahan suhu lingkungan. Perubahan tersebut mempengaruhi laju proses biokimia dalam tubuhnya, tingkat kecepatan reaksi kimiawi dalam metabolisme menjadi dua kali lipat lebih cepat setiap mengalami kenaikan suhu 100C (Klien in Anggraeni 2001). Suhu air yang optimal bagi perkembangan hidup udang adalah 28 – 30 0C. Kisaran suhu ini membuat konsumsi oksigen cukup tinggi yang dapat meningkatkan nafsu makan udang kian meninggi sedangkan pada suhu 18 – 25 0C nafsu makan udang akan menurun.

Derajat keasaman atau pH (Power of Hydogen) juga berpengaruh terhadap laju reaksi kimia serta tekanan osmosis yang terjadi di perairan dan tubuh udang (Wardoyo in Anggraeni 2001). Nilai pH air yang optimum untuk udang adalah 6,8 – 9 sedangkan pH air 4,5 – 6 dan 9,8 – 11 dapat menggangu metabolisme udang.   Ketersediaan udang kecil di muara mencerminkan besarnya rekrutmen/pengerahan pasca larva ke daerah muara.  Upaya perlindungan terhadap udang-udang kecil dapat meningkatkan produksi udang dewasa (Subrahmanyam 1973).

Udang api-api termasuk jenis udang yang memiliki nilai ekonomis penting, selain itu secara ekologi memiliki peranan yang cukup penting dalam ekosistem mangrove, yaitu dalam siklus rantai makanan dan transfer energi. Keberadaanya di alam bukan semata – mata untuk dimanfaatkan , tapi konsep konservasi lainnya harus diterapkan sehingga keseimbangan itu akan tercapai dan keberadaan Metapenaeus monoceros di perairan estuari ini tetap terjaga (11/05/2016).

Menjaga satu spesies menjadi pemicu lebih lanjut untuk spesies lainnya. Ekosistem yang seimbang adalah ketika interaksi yang terjadi tidak saling merugikan dan tentunya ketika keuntungan itu ada, makna keberlanjutan akan selalu hadir di setiap pola interaksi di dalamnya.

Penulis: Assessment Strategic

Editor: MDPR

FacebookTwitterWhatsAppBlogger PostTumblrGoogle+Share/Bookmark

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *