Untung atau Rugi, Mungkinkah Reklamasi Dijalankan?

Posted on

Maju atau mundur, bentuk penolakan akibat wewenang sang pemimpin negara yang diharapkan mampu menciptakan perubahan besar. Baik atau buruk, bentuk simbolis yang tercipta dari serangkaian kebijakan yang dirasa cukup menampilkan “luaran” yang megah. Siap atau tidak, setitik kesalahan akan semakin terasa ketika pilihan terakhir diacuhkan.

13178813_1180450401979420_9132309758591304053_n

Bentuk kehidupan semata – mata bukanlah untuk kepentingan pribadi. Apresiasi dari kebijakan sang pemimpin yang dirasa tidak memiliki makna “keseimbangan”, serta – merta mengiringi berjalannya kebijakan tersebut. Unjuk rasa yang beberapa waktu lalu melanda merupakan bentuk ketidakpuasan dari kebijakan yang siap dijalankan. Tua, muda tidak melepaskan pandangannya terhadap kebijakan besar ini. Terlepas dari pandangan ekonomi, ekologi, sosial bahkan untung dan rugi. Dampak nyata itu selalu ada, bangun atau sakit sejatinya akan tetap dirasakan oleh kalangan manapun.

Menurut Peterson (2005) in Wagiu (2011), reklamasi merupakan upaya pengadaan lahan dengan cara mengeringkan rawa, daerah pasang surut dan sebagainya. Artinya, memperoleh lahan baru ketika abrasi sudah mulai menguasai beberapa lahan lama yang kini sudah terendam. Ada tiga tujuan yang diharapkan dari kegiatan reklamasi (Wagiu 2011), yaitu : (1) mendapatkan kembali tanah yang hilang atau rusak akibat gelombang laut ; (2) memperoleh tanah baru di kawasan depan garis pantai untuk mendirikan bangunan yang akan difungsikan sebagai benteng perlindungan garis pantai ; dan (3) mendirikan konstruksi bangunan dalam skala lebih besar atau pembangunan.

Tujuan yang diciptakan seolah – olah mampu memberikan dampak positif yang mutlak ketika kebijakan ini berlangsung, terutama objek kajiannya adalah Teluk Jakarta. Teluk Jakarta meliputi wilayah pesisir Jakarta dan perairan Teluk Jakarta yang dibatasi oleh Tanjung Pasir di bagian Barat (6°00,96’ LS/106°47,76’ BT) dan semenanjung Muara Gembong di bagian Timur (5°56,48’ LS/107°01,93’ BT). Teluk Jakarta merupakan wilayah yang dangkal dengan profil kedalaman 5 meter terpisah jarak 1 km dari pantai, kemudian kontur kedalaman 10 meter pada jarak 3 km dari pantai. Luas keseluruhan perairan Teluk Jakarta adalah 514 km², dengan panjang garis pantai sekitar 72 km (Sampono et. al 2012).

Reklamasi memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek, seperti sosial, ekonomi dan ekologi. Aspek tersebut mengalami perubahan yang cukup berarti baik positif maupun negatif. Dampak terbesar adanya reklamasi terlihat pada masyarakat pesisir yang berprofesi sebagai nelayan dan buruh angkut di pelabuhan yang sehari-harinya bekerja di kawasan reklamasi ini. Secara tidak langsung, pola ketidakseimbangan sudah mulai menampakkan wujudnya. Alam dan manusia, tidaklah semudah itu menjadikannya seimbang, terlepas dari kegiatan reklamasi yang belangsung.

Ditinjau dari aspek konservasi, kegiatan reklamasi Teluk Jakarta ini semerta – merta menghilangkan spesies hidup secara perlahan. Sadar atau tidak, konsep keseimbangan sangatlah dibutuhkan dalam menjalankan kegiatan ini. Tujuan yang diharapkan dapat berjalan sesuai dengan konservasi, asumsi sederhana yang dirasa mampu memperoleh makna “seimbang” dari kegiatan reklamasi Teluk Jakarta. Kegiatan reklamasi yang menjadi ancaman luar ini perlu dilakukan kajian lebih lanjut terkait dampak apa saja yang dapat ditimbulkan, pengelolaan program yang seperti apa yang bisa menjadi landasan dalam kebijakan ini serta apakah terjamin keberlanjutan dari makhluk hidup yang bersandar di Teluk Jakarta.

Konsep sederhana dari reklamasi dan konservasi bisa menjadi kesatuan utuh yang nyata. Perhatian lebih perlu diikutsertakan dalam kegiatan ini. Ancaman yang yang mulai menghancurkan kehidupan biota laut, secara tidak langsung berefek pada lingkungannya. Wilayah perairan yang secara kualitas mulai menurun dan kuantitas yang diperoleh oleh nelayan pun ikut terasa. Lingkungan pesisir yang setiap waktu bisa menampilkan bentuk alaminya, kini tidaklah serupa. Kegiatan reklamasi yang kurang menekankan aspek konservasi di dalamnya, perlahan menyudutkan pandangan bahwa semuanya ulah “dia”.

Untung dan rugi yang yang timbul bukanlah suatu bentuk kefanaan. Nyatanya, banyak biota laut yang mati baik flora maupun fauna karena timbunan tanah urugan sehingga mempengaruhi ekosistem perairan. Selain itu, sistem hidrologi gelombang air laut menuju pantai akan berubah dari pola alaminya, memungkinkan terjadinya abrasi, penggerusan lapisan tanah atau mengakibatkan banjir rob karena genangan air banyak dengan intensitas waktu yang lama. Faktanya, keanekaragaman hayati perairan terganggu, keberlanjutan pun patut dipertimbangkan, ada atau tidak.

Apresiasi patut diacungkan untuk “mereka” yang ingin meningkatkan kualitas ekosistem pesisir. Tetapi, sisi konservasi juga perlu ditekankan dalam melaksanakannya. Bersikap adil untuk nilai ekonomi yang tinggi dengan ditunjang kehidupan alam yang selaras pasti lebih bisa mencapai tujuan yang seharusnya. Kajian khusus perlu menjadi rundown utama dalam berlangsungnya kegiatan reklamasi ini. Keterkaitan reklamasi Teluk Jakarta dan konservasi sangatlah erat, kualitas lingkungan ekonomi akan meningkat begitupun kualitas lingkungan perairannya, hasilpun tidak akan membohongi proses. Positif atau negatif ? Faktanya citra negatif secara konservasi untuk aktivitas reklamasi ini sangatlah mendominasi. Cara lain seharusnya bisa menjadi acuan yang lebih pasti, meski secara finansial akan memakan biaya yang tinggi. Rehabilitasi dapat menjadi solusi yang lebih meyakinkan, berusaha memperbaiki tanpa mengganggu kehidupan lainnya. Sejatinya, rehabilitasi adalah solutif yang berkelanjutan (25/04/2016).

Referensi

Sampono N., Ari P., John H., Ahmad F., Budy W. 2012. Dampak Reklamasi Teluk Jakarta Terhadap Kegiatan Penangkapan Ikan di Teluk Jakarta. Jurnal Perikanan dan Kelautan. Vol. III (2) : 105-112.

Wagiu M. 2011. Dampak Program Reklamasi Bagi Ekonomi Rumah Tangga Nelayan di Kota Manado. Jurnal Perikanan dan Laut Tropis. Vol. VII (1).

 

Penulis: Assessment Strategic

FacebookTwitterWhatsAppBlogger PostTumblrGoogle+Share/Bookmark

One thought on “Untung atau Rugi, Mungkinkah Reklamasi Dijalankan?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *